Tuesday, October 11, 2005

Jujur....(Satu pertanyaan untuk Radja)

         Saya langsung bisa menebak, meskipun intro lagu yang dibawakan dengan gitar kopong, ukulele dan ketipung itu tidak mirip-mirip dengan versi aslinya yang (mungkin) pakai orkestra. Begitu pula saat penyanyinya ( sebenarnya tidak jelas yang mana penyanyinya….yang pegang gitar, ukulele apa si penabuh ketipung yang… busyet semangat sekali…) melafal kata pertama syair lagunya…..Tepat! apalagi kalo bukan hits nomer 1 saat ini (.....bukan Sri Minggat atau Cucak Rowo...itu mah udah ketinggalan jaman....So last year You know.....) yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak yang baru latihan bicara sampai ibu-ibu penggemar dangdut koplo (..Walaah...), Jujur-nya Radja.
         Entah berapa kali pengamen datang silih berganti dalam gerbong kereta ekonomi Sri Tanjung jurusan Lempuyangan- Banyuwangi yang saya tumpangi dari Walikukun ( Stasiun kecil yang paling dekat dengan desa saya…) sampai Gubeng. Dari yang multi instrument, seperti pengamen pada cerita diatas, sampai yang mono instrument, gitar kopong saja, hingga pengamen2 penganut aliran musik minimalis ( Pakai kecrekan dari tutup botol bekas doang maksudnya….) semuanya seolah satu suara untuk urusan pilihan lagu. Tapi pengamen pada awal cerita tadi masih mending, mending untuk didengerkan dan masih mending pakai itro dan bait awal, tidak seperti yang lain…entah alasan menghemat waktu apa kesusahan menerjemahkan notasi intro lagu (yang (mungkin) pakai orkestra tadi) ke instrument mereka….langsung tembak ke bagian reff :
….Jujurlah padaku…
….Bila kau tak lagi cinta…
….Tinggalkanlah aku…..
….Bila tak mungkin bersama….
….Jauhi diriku…Lupakanlah aku….
….WOoooo……….

Dengan suara yang tidak kalah fals-nya dengan suara penyanyi aslinya kalo sedang live.
         Lagu yang lagi nge-hits dari Radja tadi seolah-olah jadi recent live soundtrack-nya masyarakat di desa saya, yang bagaimanapun juga kurang bisa mengerti berbagai alasan pemerintah menaikkan harga BBM yang efeknya kemana-mana, entah itu kenaikan harga minyak dunia, APBN yang defisit atau pengalihan subsidi-nya ( kemarin saya belum sempat nanya-nanya apa di desa saya ada pembagian subidi itu…setahu saya sih di Surabaya dah dari kemarin-kemarin dan antrian di kantor pos dekat tempat tinggal saya tuh sudah ngalah-ngalahin panjangnya Anaconda…). Semuanya yang ada di desa saya jadi bertanya-tanya : kok naiknya langsung banyak ya….? Gak ngerti apa ini mau lebaran?.......Dan sudah hampir pasti, satu hal yang ada di benak mereka, satu pertanyaan untuk "Radja" pilihan mereka saat pemilihan presiden beberapa bulan yang lalu :
….Jujurlah padaku…
….Bila kau tak lagi cinta…

0 komentar teman saya...:

Post a Comment

<< Home